Selamat hari Minggu, Indonesiaku!

IMG_20180318_115259

Ini tulisan pertamaku di blog ini yang kutulis dalam bahasa ibuku, Bahasa Indonesia. Maafkan aku, aku tidak begitu fasih menulis dalam bahasaku sendiri, memalukan lebih tepatnya. Tertampar dan terinspirasi dari dua buku pertama dari tetralogi Buru karya Pramoedya yang akhir-akhir ini aku gandrungi, aku rasa aku harus segera memulainya, ya, menulis dalam Bahasa Indonesia.

Matahari Minggu ini hangat dan agak sedikit menyengat. Aku duduk di depan asrama, belum juga ganti baju sepulang dari gereja. Jarang-jarang begini, pikirku. Menikmati udara bebas dan langit yang berwarna biru. Angin bertiup pelan, menyapu perlahan helai-helai dedaunan. Baru aku tersadar, di tempat yang biasanya ramai ini bisa juga teduh dan sunyi begini.

Kupandangi merah-putihku yang mengangkasa di tengah angin dan langit biru. Aku bertanya di dalam hatiku, oh merah putih, sudah berapa banyakkah umurmu? Di dalam sudut hatiku aku merasa sedikit tertuduh, rupanya belum banyak yang kuperbuat untukmu.

Beberapa waktu yang lalu kuperingati hari kelahiranku. Lucunya, umurku dan umurmu angkanya terbalik, 27 dan 72. Dari sekian banyak doaku yang lainnya, di hari itu aku juga berdoa: kiranya hidupku masih lebih lama supaya aku bisa terus bekerja dan berkarya. Untuk sesamaku, untuk bangsaku, untuk Indonesiaku.

Dulu aku bertanya, kenapa juga aku dilahirkan di negeri ini. Negeri yang beratus-ratus tahun lamanya diinjak bangsa lain – jadi jongos terbungkuk-bungkuk diinjak martabatnya. Kalau kubaca dalam sejarah rasanya aku ingin marah. Kalau aku hidup di jaman itu, mungkin aku sudah ikut perang, membela hak-hak sesamaku. Ah, tapi sepertinya nggak mungkin juga, aku bukan dari keturunan priyayi yang punya hak asasi. Palingan aku juga cuman jadi anak desa, nggak tau apa-apa dan mungkin juga hanya bertelanjang dada. Apalagi jaman itu perempuan tidak didengarkan suaranya, desisannya pun tidak ada artinya. Aku jelas bukan siapa-siapa.

Tapi di hari ini, berpuluh-puluh tahun setelah merah-putih bisa berkibar, aku bersyukur bahwa aku dilahirkan di negeri ini dan hidup di jaman ini. Dimana suaraku diapresiasi walaupun aku hanya anak perempuan kemarin sore. Ya, belum sempurna memang sistemnya dan semua-muanya. Tapi setidak-tidaknya aku nggak hanya berakhir jadi nyai-nyai dan bekerja di dapur sampai mati. Aku bisa sekolah dan jadi guru pula. Sebuah hak istimewa yang terlalu mewah untuk diharapkan perempuan-perempuan seusiaku jaman dulu kala. Ah, betapa perempuan kala itu cuma jadi manusia kelas dua! Atau mungkin malah kelas tiga? Ah, entahlah, pokoknya kalau lahir jadi perempuan jaman itu sepertinya tidak ada gunanya kecuali bunting dan produksi anak.

Rasa syukur dalam dadaku terlahir dan hidup di jaman ini menggerakkan hatiku untuk berbuat sesuatu. Ya, karena memang sepertinya aku selama ini cuma numpang hidup, numpang makan dan buang air besar. Dengan sekuat daya upaya aku akan berjuang untukmu, merah-putihku! Sungguh, aku harap aku jangan dulu mati sebelum aku bisa memberi diri dan berkontribusi. Beri aku sedikit waktu untuk membuktikan kata-kataku.

Selamat hari Minggu, Indonesiaku!

Salam hangat dariku, putri kecilmu.

NB: ini tulisanku yang pertama dan akan menyusul yang lain-lainnya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s